TRIBHUWANA – ELIZABETH I : Sebuah Perbandingan

Copy of 3

Ada hal menarik ketika membandingkan wanita-wanita nomor satu (bukan sekedar permaisuri atau selir) yang ditangannya tergenggam keputusan hidup dan mati orang di negaranya. Mereka adalah Elizabeth I dari Inggris dan Tribhuwana Tunggadewi dari Nusantara. Tidak ada satu ratu pun di dunia—termasuk para Cleopatra dari kekaisaran Mesir—yang setara dengan mereka berdua. Continue reading

ALUNAN GENDING YANG TIDAK INDAH

Candi Muara Takus, diduga sebagai satu dari peninggalan ibukota Sriwijaya (Foto: repro Wikipedia)

Sore itu, aku dan istri memutuskan menonton film Gending Sriwijaya, yang digembar-gemborkan sebagai film kolosal tanah air. Sudah terbayang di benakku suasana kolosal itu. Apalagi ini sudah era komputerisasi. Dengan perasaan penasaran membayangkan akan seperti apa kebesaran Sriwijaya—yang adikuasa menguasai sebagian besar wilayah Asia Tenggara (aku sampai riset kecil-kecilan sebelum menonton) akan digambarkan di film ini, serta pencerahan baru apa yang ditawarkan film ini dari segi kesejarahan, kami pun membaur dalam antrian yang menyiutkan nyali—bersamaan dengan penayangan Habibie Ainun.

Ada cukup lumayan penonton—untuk ukuran film yang menggembar-gemborkan kesejarahan—mungkin sekitar 8 deret. Kami sendiri menempati deret G. Akhirnya film diputar, dan aku pun bersiap menembus waktu kembali ke zaman Sriwijaya. Namun, olala…sampai film selesai aku tetap di tempatku, di zamanku, gelisah mencari-cari kebesaran kerajaan maritim adidaya Sriwijaya yang tak juga kutemukan. Dan aku meratapi uangku yang kadung kubelanjakan untuk film ini. Continue reading

MENELISIK PERAWAKAN GAJAH MADA

GAJAH MADA

#barubaca #barutahu
“…Yamin, dalam buku itu… ….juga menampilkan foto sekeping terakota berwujud wajah lelaki berpipi tambam dan berbibir tebal. Yamin dengan keyakinan ilmu firasatnya menuliskan ……Gadjah mada… …….yang mahatangkas dan air mukanya menyinarkan keberanian seorang ahli politik yang berpemandangan jauh.” Namun, belakangan saya melihat kepingan itu di Museum Trowulan, yang memiliki koleksi Majapahit terlengkap. Sejatinya itu bagian dari celengan kuno dan tak berkaitan dengan Gadjah Mada…”
(National Geographic, Repihan Majapahit, September 2012)
Tanggapan e, Rek.. :p

Tulisan di atas adalah postingan seorang friend istri saya tentang Gajah Mada pada sebuah situs jejaring sosial. Selalu membuat saya tersenyum setiap kali membacanya, karena posting itu tersebut ternyata mampu menggelitik saya untuk membuka kembali file-file yang pernah saya kumpulkan dahulu saat mencari bentuk Gajah Mada yang sejati. Akhir dari hasil pendalaman saya menghasilkan sketsa wajah seperti yang saya tampilkan di atas. Sketsa saya di atas bisa menjadi alternatif perkiraan wajah Gajah Mada, yang bagi saya pribadi—dan ini sangat subyektif, lebih mendekati Gajah Mada yang asli daripada wajah tembem yang selama ini kita miliki. Continue reading

Posted in MY CAFE

KEN DĔDĔS, DIAGUNGKAN ATAU DIRENDAHKAN?

05bvSambil menyulut rokoknya diiringi musik berirama dangdut yang mengalun memenuhi seisi warung, pemuda itu memandangku dengan sorot matanya yang dipenuhi tanya. Dia seperti heran oleh pertanyaan yang menurutku sederhana: “apakah anda tahu Tribhuwana?”—tentu saja kutanyakan dengan bahasa dan logat lokal yang kental. Dia berkata singkat bahwa dirinya tidak tahu. (Sekedar catatan, Tribhuwana adalah penguasa Majapahit ketiga, dan termasuk jajaran raja besar karena era pemerintahannya Majapahit memulai politik ekspansi dan Nusantara akan memasuki babak baru sejarah).

Aku lanjutkan bertanya lagi pada pemuda yang menurut pengamatanku sangat tipikal sebagai generasi nongkrong itu. “Apakah anda tahu Ken Dĕdĕs?”

“Sampeyan suka ketoprak ya?” katanya. Ketoprak adalah seni pertunjukan yang berasal dari Jawa tengah, biasanya menggunakan kisah-kisah panji termasuk Ken Angrok-Ken Dĕdĕs. Namun kali ini pemuda itu bisa menjawab, meski dengan sangat minim. Katanya Ken Dĕdĕs adalah orang zaman dulu, kalau tidak salah pasangan Ken Angrok. Lebih dari itu dia tidak tahu. Pokoknya orang zaman dulu—dia menegaskan. Continue reading

Posted in MY CAFE

CALON ARANG: ANTARA ALLAH DAN PANGIWO

 

sfsgfgdh2  

     SUNGGUH terhenyak ketika mempelajari Serat Calon Arang karena memberiku banyak pertanyaan mengenai jalan takdir dan seberapa besar wewenang Tuhan dan kehendak bebas manusia dalam sama-sama berkontribusi melahirkan takdir buruk. Continue reading

Posted in MY CAFE

MENYUSURI BILIK-BILIK ZAMAN YANG TELAH MUSNAH

1Bagai lensa kamera yang mengabadikan butir-butir kenangan, begitu pun Candi Jawi yang reliefnya seperti bilik-bilik dalam galeri foto, berjajar dan memutar kembali pemandangan indah masa yang telah lenyap. Mata tajam seniman antah berantah berhasil menangkap detail pentingnya, untuk dipersembahkan sebagai adicitra yang menyadarkan dari negeri seperti apa kita berasal.

WAJAH ramah dan sambutan hangat seorang lelaki paruh baya menyambut kami dari pos penjagaannya. Pak Mistari, demikian pria itu mengenalkan namanya, memaparkan segala hal tentang sebuah bangunan kuno dari batu setinggi 24,5 meter yang berdiri tegak menatap balik pada kami. Tentu saja itu adalah candi, karena mlancong kami siang itu di kompleks Candi Jawi. Siang itu terasa panas menyengat oleh minimnya teteduhan di sekitar candi. Lokasinya yang terbuka di pinggir jalan,  persaingannya dengan obyek wisata lain yang menebar di sekitar Pandakan dan Trawas,  ditambah kurangnya kesadaran masyarakat akan nilai sejarah, membuat bangunan ramping itu terlihat tak berarti. Beberapa pelancong juga hanya mengisi kunjungannya dengan berfoto dan duduk-duduk setelah bosan berkeliling dan kepanasan. Tapi oleh pitutur Pak Mistari, kompleks batu yang serba bisu itu diubah menjadi cerita dramatis bak Ramayana. Inilah kisahnya pada kami. Continue reading

Posted in MY CAFE

DARI RUANG KATEKISASI HINGGA CANDI JAWI

1

Di suatu masa, ketika gereja Barat meneror seantero Eropa dengan inkuisisi……

DENGAN kesan kasual yang melekat padanya, sang pendeta menjelaskan pada kami sejarah kekristenan dalam kelas katekisasi.  Tak seperti biasanya, malam itu ada suatu kesan yang menancap dalam, tertinggal di benakku. Memberi kekuatan lebih untuk masuk dalam sebuah gua pemikiran yang penuh jarum es tajam. Sebuah pencerahan-nakal, jika boleh dikatakan. Mungkin karena aku baru beberapa hari sebelumnya mengunjungi sebuah candi peninggalan Majapahit, candi Jawi di Pandakan, Jawa Timur.

Apa hubungannya? Continue reading

Posted in MY CAFE

Frangipani Letters

Melihat kerlip lampu-lampu kota di pulau dewata dari angkasa saat pesawat lepas landas menelusupkan perasaan duka karena akan berpisah dengan pulau itu. Menatap kembali ke depan dengan harapan menyala bahwa di rentang benang waktu ke depan aku akan menginjakkan kakiku kembali ke pulau milik Bathara Syiwa ini.

Barangkali aku adalah pengelana kehidupan yang aneh dari segelintir orang yang memiliki cara berbeda menikmati gemulai pulau dewata. Barangkali sudah banyak dari sahabat-sahabatku yang pernah ke Bali, melongok pantai-pantainya yang indah, atau berwisata lainnya. Namun mereka tentu tidak merasakan apa yang kurasakan. Continue reading

Posted in MY CAFE | Tagged

Menerobos Ke Dalam

PAGI  itu sepertinya hari raya Idul Fitri. Ibuku memandikanku dan memakaikan baju pramuka yang biasa aku gunakan di sekolah. Orang-orang desa sepertinya berwajah ceria, saling mengunjungi. Kakak perempuanku, entah masih usia berapa saat itu, bahkan dengan gembira meminjam sepeda kumbang pada seseorang yang dikenalnya di desa, dan memboncengku bersepeda dari ujung ke ujung desa. Aku merasakan kegembiraan yang membuncah dan tak mampu lagi menahan tawa senang. Setiap melintasi rumah nenek aku melambai senang dan berteriak menyalami semua orang. Desa Jampirogo, Jombang, masih bersemarak takbir shalat Ied.

Itu ingatan yang lekat di kepalaku. Jika perhitunganku tak salah saat itu aku masih kelas 2-3 SD. Jika aku mencoba membongkar ingatan moment-moment di masa itu, bukan hal mengejutkan bagiku oleh sangat banyaknya ingatan yang masih terpelihara di otakku dengan baik. Bahkan sangat segar seolah kejadian-kejadian itu baru saja terjadi. Memberiku gambaran jelas sejelas langit siang hari tentang gambaran hidup dan dunia dari sudut pandang anak usia 8 – 9 tahun. Continue reading

Posted in MY CAFE

Pada Akhirnya…

Setahun selama bekerja di Masmedia, mengguratkan banyak kenangan. Pahit ataupun manis tentu saja ada. Semua silih berganti seperti awan di langit, berlalu untuk muncul kembali.
Pada hari dimana aku harus melangkah pergi, telah banyak yang kupelajari dan kudapat selama ada di sini. Continue reading

Posted in MY CAFE