TRIBHUWANA – ELIZABETH I : Sebuah Perbandingan

Copy of 3

Ada hal menarik ketika membandingkan wanita-wanita nomor satu (bukan sekedar permaisuri atau selir) yang ditangannya tergenggam keputusan hidup dan mati orang di negaranya. Mereka adalah Elizabeth I dari Inggris dan Tribhuwana Tunggadewi dari Nusantara. Tidak ada satu ratu pun di dunia—termasuk para Cleopatra dari kekaisaran Mesir—yang setara dengan mereka berdua.

TOKOH DUNIA. Sebuah lukisan yang menggambarkan Elizabeth I. Sama seperti Tribhuwana, Elizabeth adalah tokoh lokal, namun karena bangsa yang dibesarkannya, Inggris, mempengaruhi jalan sejarah dunia, Elizabeth pun menjadi tokoh dunia. (Foto: repro internet)

TOKOH DUNIA. Sebuah lukisan yang menggambarkan Elizabeth I. Sama seperti Tribhuwana, Elizabeth adalah tokoh lokal, namun karena bangsa yang dibesarkannya, Inggris, mempengaruhi jalan sejarah dunia, Elizabeth pun menjadi tokoh dunia. (Foto: repro internet)

RATU ELIZABETH I

Masa kekuasaan Ratu Elizabeth I merupakan titik balik bagi bangkitnya armada laut Inggris dan menjadikan negeri ini sebagai bangsa penjelajah.  Meski zamannya dianggap zaman keemasan, ketika mendaki tahta Inggris Elizabeth tidaklah mewarisi negeri yang tenang dan kondusif, sebaliknya Inggris diambang pertumpahan darah akibat perpecahan agama, ancaman dari Spanyol dan Prancis, ketegangan dengan Skotlandia serta masalah moneter yang terjadi di dalam negeri.

Elizabeth berkuasa 200 tahun setelah masa Ratu Tribhuwana Tunggadewi dari Majapahit. Begitu bertahta dia segera mengambil beberapa langkah untuk memulihkan Inggris, diantaranya mengesahkan undang-undang tahun 1559 tentang persamaan dan supremasi, yang menetapkan Anglikan sebagai agama resmi Inggris. Tahun 1570 Paus Pius V memerintahkan Elizabeth  turun tahta namun tidak menuai hasil. Sepuluh tahun kemudian Paus Gregorius XIII menghalalkan Elizabeth  untuk dibunuh. Meski dijepit penentangan dari kaum puritan dan Katholik, Elizabeth mampu membuat situasi Inggris tetap stabil dimana antara golongan agama terjadi kompromi, dan dia tetap menjadikan dirinya garda terdepan menghadapi kemungkinan bangkitnya kembali Katholik di Inggris.

Di tengah ketegangan dengan Spanyol yang Katholik dimana Paus ada dibaliknya, Elizabeth  dengan tekun membangun armada lautnya, yang menyebabkan Spanyol buru-buru memperbesar angkatan lautnya juga. Ketegangan ini segera melahirkan perang. Ketika Spanyol menekan pemberontakan kaum Protestan Belanda, Elizabeth membantu Belanda, memberi alasan kuat pada Philip II memberangkatkan armada laut yang dengan arogan diberi nama “tak terkalahkan” menuju perang suci menghajar Inggris. Perang laut yang bersejarah pun pecah di tahun 1588 dengan kemenangan di pihak Inggris. Kemenangan ini menjadi titik balik Inggris sebagai penguasa lautan, sejak itu angkatan laut Inggris tak pernah lagi terkalahkan supremasinya, yang terus memperluas kolonisasinya.

KELIRU. Perang laut antara Inggris dan Spanyol, yang dilukiskan dengan keliru. Faktanya perang ini tidak terjadi dalam jarak yang demikian dekat, dan tak satupun kapal Inggris yang tenggelam (foto: repro internet)

KELIRU. Perang laut antara Inggris dan Spanyol, yang dilukiskan dengan keliru. Faktanya perang ini tidak terjadi dalam jarak yang demikian dekat, dan tak satupun kapal Inggris yang tenggelam (foto: repro internet)

Satu hal yang terkenal dari diri Elizabeth adalah dirinya memutuskan tidak menikah seumur hidup. Ada banyak spekulasi yang melatari sang ratu menolak kehidupan rumah tangga meski dorongan untuk menikah banyak diberikan oleh para menterinya. Banyak yang menghubungankan hal tersebut dengan masa lalunya yang kelam. Elizabeth lahir tahun 1533 di Greenwich sebagai anak dari Raja Henry VIII dan istri keduanya, Anne Boleyn yang kepalanya sendiri dipenggal oleh sang raja. Kaum Katholik Inggris yang tidak mengakui perkawinan kedua Henry, melalui parlemen mengutuk Elizabeth yang baru berumur 3 tahun sebagai anak haram.  Sepeninggal Raja Henry, Edward VI saudara tiri Elizabeth naik tahta membawa arus politik yang mendukung Protestan. Kemenangan Protestan tidak lama, ketika Mary I akhirnya bertahta di Inggris, supremasi Katholik kembali bangkit, dan mengawali penindasan pada kaum Protestan (Ratu ini mendapat julukan “Bloody Mary” karena kekejamannya). Selama pemerintahan Mary, Elizabeth disekap di menara London dan senantiasa dalam ancaman bahaya.

Situasi yang sarat pengejaran dan penyiksaan akhirnya berhenti setelah Ratu Mary meninggal, dan dengan demikian tak ada yang menghalangi Elizabeth meniti tahta Inggris. Menengok kembali ke belakang, Elizabeth mendapati pernikahan di keluarga kerajaan hanya melahirkan perpecahan dan pertumpahan darah di Inggris, ibunya sendiri di penggal dan dia harus melewati masa kecilnya sebagai tahanan yang senantiasa dalam bahaya. Banyak pengamat percaya justru keengganan Elizabeth untuk menikah membawa kestabilan bagi Inggris guna mempersiapkan peran bangsa ini bagi sejarah dunia, dan penguasaan tunggalnya justru membuat demokrasi di Inggris menjadi hidup.

Elizabeth seorang egaliter yang menolak dominasi laki-laki terhadap wanita, dan menolak tegas penilaian apa pun pada dirinya atas dasar sentiman gender. Dia bertahta dengan kebijakan yang jelas, berwawasan luas, dan mewariskan angkatan laut terkuat di dunia pada Inggris hingga sekarang.

RATU JAWA. Sebuah arca Parwati (pasangan Syiwa) dari candi Rimbi di Jawa Timur yang merupakan perwujudan Ratu Tribhuwana. Saat ini sang arca menghiasi Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Sang ratu mewariskan begitu banyak hal pada negara kita hari ini. (foto: repro internet)

RATU JAWA. Sebuah arca Parwati (pasangan Syiwa) dari candi Rimbi di Jawa Timur yang merupakan perwujudan Ratu Tribhuwana. Saat ini sang arca menghiasi Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Sang ratu mewariskan begitu banyak hal pada negara kita hari ini. (foto: repro internet)

RATU TRIBHUWANA TUNGGADEWI

Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah penguasa ketiga di Majapahit. Tidak terlihat tanda-tanda Majapahit—yang saat itu dipandang tak lebih pengekor dari Singhasari— akan menjadi kekuatan yang mengubah jalan sejarah nusantara, hingga tiba waktunya Tribhuwana bertahta.

Sama seperti Elizabeth I, Tribhuwana mendaki tahta tidak dengan mewarisi sebuah kerajaan yang damai dan tenang, sebaliknya, Majapahit senantiasa diambang perpecahan oleh perang saudara (yang sudah terjadi beberapa kali di masa pendahulunya). Di wilayah timur ada “orang-orang Majapahit timur” (mulai wilayah Lumajang hingga ujung timur Blambangan) yang tak pernah merelakan diri takluk pada “orang-orang Majapahit Barat”, di mana pada semenanjung timur Jawa masih banyak kerajaan-kerajaan berdaulat yang senantiasa mengancam Majapahit seperti Keta dan Sadeng. Bali merobek-robek perjanjian takluk pada Jawa yang dibuat pada zaman Singhasari. Demikian juga bahaya senantiasa mengancam dari wilayah barat oleh bangsa mongol.

Tribhuwana melewati masa mudanya dengan tidak mudah. Ayahnya, pendiri Majapahit, senantiasa menghadapi rongrongan pemberontakan, dengan demikian keselamatannya sendiri senantiasa dalam bahaya. Ketika saudara tirinya, Jayanagara Dyah Kalagemet bertahta, alih-alih menyekap dan mengontrol Tribhuwana sebagai penguasa kecil di Kahuripan, raja muda ini mengeluarkan perintah larangan bagi Tribhuwana untuk menikah.  Dengan cara ini Jayanagara memberangus munculnya rival dalam kekuasaannya di kemudian hari.

Penderitaan Tribhuwana terhenti setelah Jayanagara tewas tahun 1328. Banyak spekulasi mengenai pembunuhan Jayanagara. Bagaimanapun, antara Jayanagara dan Tribhuwana, meski berasal dari garis ayah yang sama, mereka berasal dari keluarga ibu yang berbeda (menurut Pararaton Jayanagara berdarah malayu-jawa, dari ibu bernama Dara Petak (Indreswari), dimana nama Dara Petak tidak disebutkan dalam prasasti-prasasti zaman Majapahit). Tentu saja keluarga Tribhuwana (dari garis Kŗtanāgara) tidak akan membiarkan wangsanya dipunahkan Jayanagara, sehingga banyak sejarawan yang menghubungkan keterlibatan Tribhuwana pada konspirasi tiga serangkai Gayatri-Gajahmada-Tanca pada kasus kematian raja yang mengenaskan itu. Setelah Jayanagara tewas, yang berhak atas tahta seharusnya Gayatri, ibu Tribhuwana sebagai satu-satunya istri raja pertama yang masih hidup. Namun karena Gayatri telah tua dan menjadi biksuni, maka Tribhuwanalah—sebagaimana diperhitungkan dalam konspirasi—mendaki tahta Majapahit.

KEJAYAAN MASA LALU. Sebuah replika Jung Majapahit. Kemampuan jung-jung Majapahit adalah bergerak cepat melintasi samudra, dan dalam masa keemasannya dilengkapi meriam-meriam dengan daya bakar tinggi. (Foto: repro Wikipedia)

KEJAYAAN MASA LALU. Sebuah replika Jung Majapahit. Kemampuan jung-jung Majapahit adalah bergerak cepat melintasi samudra, dan dalam masa keemasannya dilengkapi meriam-meriam dengan daya bakar tinggi. (Foto: repro Wikipedia)

Begitu menggenggam kekuasaan, Tribhuwana mengawali babak baru dalam sejarah nusantara, dan Majapahit pada khususnya. Dia tidak ingin tanggung-tanggung tambal sulam menghadapi satu demi satu pemberontakan sebagaimana pendahulunya. Dia mewujudkan ambisi leluhurnya, Kŗtanāgara, untuk membangun sebuah imperium dan melakukan segala cara menjamin kestabilan imperiumnya itu.

Sama seperti Elizabeth yang sebagian pencapaiannya didapat karena kepiawaiannya memilih pejabat yang cakap semisal Lord Burghely sebagai penasehat utama, Tribhuwana pun merombak kabinetnya dan mengangkat orang-orang cakap, semisal Gajahmada yang menjadi penasehat utamanya. Tribhuwana  menunjukkan keseriusannya membangun imperium dengan turun langsung memimpin laskar Majapahit mengoyak kerajaan Sadeng dan menginjak-injak Keta beserta pelabuhannya. Tampaknya usaha ini berhasil hingga Gajahmada bahkan dengan senang hati bersumpah palapa mewujudkan mimpi besar Tribhuwana.

Terlepas apa pun yang telah terjadi, atau siapa pun penggagas politik nusantara yang tertuang dalam sumpah palapa, adalah fakta bahwa hanya di era pemerintahan Tribhuwana Majapahit memulai politik ekspansinya.

Sama seperti Elizabeth I, Tribhuwana juga membangun dan memperkuat armada laut. Segera setelahnya Majapahit mulai memberangkatkan angkatan lautnya melakukan penaklukkan. Tahun 1343 Bali dan Lombok ditekuk, sebagai inisiasi yang melambungkan nama Gajahmada. Setelah menuai dukungan penuh dari rakyat, armada diarahkan ke barat. Tahun 1350 Sumatra digulung dimana pasukan Majapahit menusuk jauh ke ibukota Jambi. 31 negara di Sumatra dicukur habis. Selanjutnya Semenanjung Malaysia (Hujung Medini) bersama 13 negara melayu dilibas. Tak lupa mampir sebentar untuk mempercundangi Singapura (Tumasik) dan Bintan. Pasukan Majapahit kemudian berbalik ke Kalimantan (Tanjung Pura) dan mencaploki 20 negara di Kalimantan.

Tribhuwana memiliki wawasan yang luas, pemerintahannya terkenal agresor dan tegas. Apa yang terjadi di masa raja-raja pendahulunya, dimana kerajaan-kerajaan yang tersebar di seantero nusantara (terutama orang-orang belahan timur sejak Lumajang yang tidak henti-hentinya bersikap kurang ajar pada penguasaan induk Majapahit) memandang sebelah mata pada kerajaannya yang muncul sebagai “pemain baru” di tanah Jawa, tidak pernah lagi terjadi sejak Tribhuwana menduduki tahta. Tribhuwana juga satu-satunya raja wanita yang berani keluar dari zona nyaman istana dan terjun langsung menginjak-injak Keta dan Sadeng. Sama seperti Elizabeth I, Tribhuwana mampu membawa pemerintahannya stabil di tengah faksi-faksi yang bertikai, yang diilustrasikan dengan pertentangan antara kabinet Gajahmada dengan poros Ra Kembar.

Wawasan Tribhuwana yang luas dan keberaniannya mengambil tindakan politis akhirnya mewariskan pada Majapahit angkatan laut paling mematikan di belahan asia timur, dan sebuah wilayah kepulauan seluas nusantara pada kita sekarang. Malangnya, tidak seperti Inggris, Jaladhi—angkatan laut Majapahit yang sangat mematikan (200 tahun mendahului bangkitnya angkatan laut Inggris), harus berakhir ketika Mataram Islam berkuasa dan memberangus kekuatan maritim untuk beralih menjadikan nusantara bangsa agraris (petani). Sulit dibayangkan seandainya Tribhuwana tidak pernah bertahta dan Jayanagara berumur panjang, apakah politik nusantara (sumpah palapa) mendapat tempat di pemerintahan Jayanagara. Besar kemungkinan tidak.

Ada hal yang perlu dicatat dalam hidup Ratu Tribhuwana. Begitu Jayanagara tewas, dan dirinya terbebas dari aturan saudara tirinya yang membunuhnya pelan-pelan, Tribhuwana segera—sesegera mungkin—memilih sendiri pasangannya melalui sayembara, untuk memastikan dirinya punya keturunan dan dengan demikian menjaga tahta tetap dalam genggaman garis wangsa Kŗtanāgara leluhurnya. Laki-laki yang dipilihnya itu adalah Cakradara, yang derajadnya segera diangkat setingkat raja kecil bergelar Kertawardhana Bathara ring Tumapel agar sesuai sebagai pasangan Ratu Tribhuwana.

Kertawardhana , meski perannya tak lebih dari sekedar pendamping, tetap bersikap sebagaimana raja-raja Jawa pada umumnya, dengan menyimpan selir untuk pemuasnya, yang memberinya putra bernama Raden Sotor. Yang mengejutkan, selir itu tetap hidup nyaman dalam pemerintahan Tribhuwana. Bandingkan dengan ratu pertama dalam kancah perpolitikan China, Ratu Lü istri Kaisar Gaozu dari dinasti Han, yang berkuasa sejak 188 SM. Begitu bertahta, Ratu Lü memotong kaki dan tangan selir suaminya, Nyonya Qi, mencongkel matanya, membuatnya bisu dan tuli dengan cara yang biadab dan memaksa wanita itu tinggal di toilet hingga tewas.

KEBETULAN YANG POSITIF. Angkatan laut yang dibangun Elizabeth. Kemenangan Inggris atas Spanyol bukan karena memiliki angkatan laut yang hebat, tetapi karena angkatan laut Spanyol tidak cukup kuat, dan secara kebetulan kemenangan ini meningkatkan rasa percaya diri Inggris hingga angkatan lautnya tumbuh menjadi benar-benar digdaya. (Foto: repro internet)

KEBETULAN YANG POSITIF. Angkatan laut yang dibangun Elizabeth. Kemenangan Inggris atas Spanyol bukan karena memiliki angkatan laut yang hebat, tetapi karena angkatan laut Spanyol tidak cukup kuat, dan secara kebetulan kemenangan ini meningkatkan rasa percaya diri Inggris hingga angkatan lautnya tumbuh menjadi benar-benar digdaya. (Foto: repro internet)

RATU-RATU ANGKATAN LAUT DAN PERGULATANNYA SEBAGAI WANITA

Banyak persamaan antara Tribhuwana dan Elizabeth I. Mereka berdua lahir di tengah pertentangan dalam keluarga yang tajam, dan mendaki tahta di atas kematian raja sebelumnya. Mereka sama-sama memiliki wawasan yang luas, dan sama-sama bertindak tegas dalam mempertahankan politik dan teritorialnya. Sama-sama menjadi garda terdepan menghadapi perpecahan bangsanya.

Uniknya, mereka bahkan sama dalam hal mengawali bangkitnya angkatan laut negaranya, dan menjadi titik anjak ekspansi dan kolonisasi melalui kekuatan maritim. Masa pemerintahannya merupakan masa keemasan. Dan sama-sama mewariskan kebesaran bagi bangsanya.

Wanita toh harus menikah, demikian kata tradisi dan stigma masyarakat. Elizabeth ogah melakukannya. Tak seorang lelakipun diizinkan mencuri kebesarannya, atau ikut campur dalam politiknya hanya karena ranjang malam pertama. Hingga ajalnya—meski ada spekulasi dia membangun affair untuk hasratnya— Elizabeth tetap perawan (koloni Inggris pertama di Amerika diberi nama “Virginia” atau “perawan” untuk menghormatinya). Tidak seorang pun mengetahui—dan sudah pasti demikian—seberapa dalam penderitaannya, jika pun dia menderita dalam kesendiriannya.

Sebaliknya, Tribhuwana tidak perlu separanoid Elizabeth. Dia memiliki pernikahan dan suami yang sah (dia sampai melahirkan 3 anak dari laki-laki ini). Apa yang dirisaukan Elizabeth tidak terjadi pada Tribhuwana. Sampai tingkat tertentu, Tribhuwana mampu memberangus peran laki-laki itu di kancah politiknya. Semua prasasti dan kitab mencatat sejumlah penaklukkan dan peristiwa penting hanya atas nama dirinya.

Tanpa perlu mempertahankan keperawanan, apakah Tribhuwana lebih baik dari Elizabeth?

Well, Elizabeth yang merupakan orang Barat, saat menjadi orang nomor satu, memiliki power untuk menjungkir-balikkan tradisi gender yang membuatnya tidak nyaman, dan masih tetap dianggap waras oleh bangsanya. Tidak seperti Elizabeth yang hidup di wilayah Eropa, Tribhuwana sepenuhnya manusia Jawa, sebuah bangsa yang nilai laki-lakinya diukur dari “wismo-arto-wanito-turonggo-kukilo” (rumah-harta-wanita-kendaraan-peliharaan). Meski pada Tribhuwana takluk seluruh nusantara dan kakinya disembah laksana dewa, dirinya tetap adalah satu dari 5 pelengkap status si laki-laki itu—Tribhuwana tetap harus berbagi suami dengan wanita lain.

coba1

About Asisi

Penulis
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.