Menerobos Ke Dalam

PAGI  itu sepertinya hari raya Idul Fitri. Ibuku memandikanku dan memakaikan baju pramuka yang biasa aku gunakan di sekolah. Orang-orang desa sepertinya berwajah ceria, saling mengunjungi. Kakak perempuanku, entah masih usia berapa saat itu, bahkan dengan gembira meminjam sepeda kumbang pada seseorang yang dikenalnya di desa, dan memboncengku bersepeda dari ujung ke ujung desa. Aku merasakan kegembiraan yang membuncah dan tak mampu lagi menahan tawa senang. Setiap melintasi rumah nenek aku melambai senang dan berteriak menyalami semua orang. Desa Jampirogo, Jombang, masih bersemarak takbir shalat Ied.

Itu ingatan yang lekat di kepalaku. Jika perhitunganku tak salah saat itu aku masih kelas 2-3 SD. Jika aku mencoba membongkar ingatan moment-moment di masa itu, bukan hal mengejutkan bagiku oleh sangat banyaknya ingatan yang masih terpelihara di otakku dengan baik. Bahkan sangat segar seolah kejadian-kejadian itu baru saja terjadi. Memberiku gambaran jelas sejelas langit siang hari tentang gambaran hidup dan dunia dari sudut pandang anak usia 8 – 9 tahun.

Aku penasaran untuk menembus lebih jauh ingatanku. Ada masa-masa dulu saat kami sekeluarga masih mengontrak. Rumah itu berhalaman luas dengan banyak cerita seram dari tetangga sebelum kami menempati (bekas bong—kuburan etnis China). Aku masih mampu mengingat, secara garis besar, aku pernah merengek minta dibelikan mainan berbentuk kuda setelah melihat kuda-kudaan di pasar malam. Aku memiliki setumpuk mainan kartu bergambar dan aku paling membenci (boleh dibilang takut) pada gambar “Iblis”, dan aku masih mengingat bentuk gambar itu wanita berpakaian merah dengan mata melotot dan memiliki tangan yang sangat banyak (jika aku mengingat sekarang semakin yakin saat itu gambar Dewi Kali Hinduisme yang kulihat). Atau aku menginginkan baju berbentuk kostum superman namun tidak pernah kesampaian. Jika perhitunganku tidak keliru (berdasar pengakuan Ibuku sekarang) saat itu tahun 1979, jadi kira-kira aku masih berusia 5 tahun. Dan sekali lagi, tidak mengherankanku bahwa kenangan-kenangan di usia 5 tahun itu masih segar di kepalaku. Setiap detil dan setiap perasaan yang ada saat itu. Terlalu banyak sehingga mustahil kutulis di sini.

Aku makin penasaran sejauh apa ingatan masa lalu kutembus. Aku sudah mengurai-ngurai dan membuka kamar-kamar penyimpanan memori di otakku, terjauh yang bisa kutembus adalah 4 peristiwa, lebih jauh dari 4 peristiwa ini gagal kutembus:

1. Suatu hari aku bermain-main sendiri, lalu lewat serombongan orang (seperti pertunjukkan reyog). Aku segera menyelinap di pangkuan ayahku yang duduk di teras bersama ibuku. Rombongan itu melintas, namun yang menarik ada satu orang yang berkepala kuda. Aku masih mengingat bahwa itu bukan topeng, mata, telinga dan hidungnya bergerak-gerak.
2. Suatu malam aku duduk dipangku ibuku, dan kami mendengar suara tokek di rumah depan kami. Rumah itu cukup jauh (setidaknya dalam sudut pandangku saat itu). Ketika orang tuaku membicarakan suara itu, aku hanya melihat—mungkin penjelasanku saat ini—tegel pecah yang dijadikan batas tanaman. Namun bagiku itu terlihat seperti babi putih berbentuk pipih. Benda itulah menurutku yang berbunyi tokek.
3. Suatu malam aku tidak bisa tidur dan menginginkan mainan malam (dari karet untuk dibentuk-bentuk). Ibuku bangkit membelikanku dan langsung memasangkan di jariku berbentuk seperti kuku panjang. Lalu paginya antara tidur dan terjaga, aku melihat orang-orangan kecil berlompatan di kusen-kusen atap rumah.
4. Suatu hari aku digendong dan disuapi makanan oleh ibuku. Lalu datang ibu yang lain membawa anaknya. Dengan senang ibuku menawarkan satu suapan untuk anak itu. Karena dia menolak, suapan itu dilimpahkan ke aku, yang dengan marah kutolak. Aku tidak mau makan sisa anak itu, bahkan aku menangis minta agar suapan itu di buang.

Berdasar pengakuan ibuku sekarang, saat itu tahun 1976 (kami berpindah-pindah rumah kontrakan sehingga mudah mengingat tahun berdasar rumah yang ditinggali). Jadi jika perhitunganku tidak keliru, saat itu aku masih berusia antara 1-2 tahun.

Sepertinya inilah kenangan (sangat segar di kepala) terjauh yang bisa kutembus. Begitu segarnya sampai hari ini pun serasa baru terjadi kemarin sore. Ingatan ketika masih berusia 1-2 tahun, meskipun itu hanya mampu mengingat 3 peristiwa saja. Sudaj kucoba lebih jauh lagi ternyata kosong. Gelap tak mampu kuterobos. Tapi dari 4 ingatan tersebut, aku bisa membuat kesimpulan sendiri dunia dari sudut anak usia 1-2 tahun. Adalah dunia yang batas antara nyata dan khayalan adalah kosong. Dua dunia yang fisika dan metafisika itu masih bercampur. Kemana-mana terasa luas dan orang-orang terlihat besar dan membuat aman.

Sejauh apa ingatan masa kecil yang mampu anda tembus?

About Asisi

Penulis
This entry was posted in MY CAFE. Bookmark the permalink.