ALUNAN GENDING YANG TIDAK INDAH

Candi Muara Takus, diduga sebagai satu dari peninggalan ibukota Sriwijaya (Foto: repro Wikipedia)

Sore itu, aku dan istri memutuskan menonton film Gending Sriwijaya, yang digembar-gemborkan sebagai film kolosal tanah air. Sudah terbayang di benakku suasana kolosal itu. Apalagi ini sudah era komputerisasi. Dengan perasaan penasaran membayangkan akan seperti apa kebesaran Sriwijaya—yang adikuasa menguasai sebagian besar wilayah Asia Tenggara (aku sampai riset kecil-kecilan sebelum menonton) akan digambarkan di film ini, serta pencerahan baru apa yang ditawarkan film ini dari segi kesejarahan, kami pun membaur dalam antrian yang menyiutkan nyali—bersamaan dengan penayangan Habibie Ainun.

Ada cukup lumayan penonton—untuk ukuran film yang menggembar-gemborkan kesejarahan—mungkin sekitar 8 deret. Kami sendiri menempati deret G. Akhirnya film diputar, dan aku pun bersiap menembus waktu kembali ke zaman Sriwijaya. Namun, olala…sampai film selesai aku tetap di tempatku, di zamanku, gelisah mencari-cari kebesaran kerajaan maritim adidaya Sriwijaya yang tak juga kutemukan. Dan aku meratapi uangku yang kadung kubelanjakan untuk film ini.

Itulah sekilas yang kurasakan saat menonton film—yang dipromokan epic, sejarah, dan kolosal—Gending Sriwijaya. Seperti menonton sinetron silat di televisi namun harus membayar.

KATA SEJARAWAN

Sekilas kisah dalam film ini adalah, di akhir kejayaan Sriwijaya banyak kedatuannya yang ingin membangkitkan lagi kejayaan masa silam, salah satunya kedatuan Bukit Jerai. Seorang raja bernama Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Sang Raja memiliki dua anak, yang karena rebutan tahta (terutama oleh anak sulung, Awang Kencana) memicu pemberontakan (silat duel antara 1-5 orang alaa sinetron).

Bila anda search di internet, akan berlimpah informasi bahwa film ini penuh penyesatan sejarah. Seperti yang aku ambil dari tribunsumsel.com (terakhir aku cek edisi petang, rabu 16 Januari 2013). Kurang lebih seperti ini:

Kehancuran Sriwijaya adalah karena faktor external, bukan internal seperti dalam film ini. (menurut sejarah, Sriwijaya akhirnya ambruk oleh serangan kerajaan Cola pada 1025 M). “Tidak ada sejarah yang mengisahkan perebutan kekuasaan oleh dua anak raja Kerajaan Sriwijaya,” tegas Erwan Suryanegara, Ketua Yayasan Kebudayaan Tandipulau.

Dalam film digambarkan tarian Gending Sriwijaya diciptakan oleh pendekar wanita di zaman Dapunta Hyang, padahal menurut sejarah, tarian ini diciptakan oleh Sukainah Arozak (dengan syair oleh A Muhibat) pada masa pendudukan Jepang tahun 1943 sebagai tarian penyambut tentara Jepang, bukan pada masa kejayaan Sriwijaya yang membentang antara abad ke-7 hingga ke-13. Antara kerajaan Sriwijaya dan tarian Gending Sriwijaya adalah dua hal yang berbeda, selisihnya dalam hitungan abad, tak mungkin disatukan.

Ada yang perlu diperhatikan dalam film ini, para wanitanya memakai kemben (kain penutup dada) seperti di Jawa, yang menurut Erwan Suryanegara bukanlah pakaian pada masa Sriwijaya. “Bagi kami, pakaian itu (kemben) merupakan pakaian khusus untuk ke sungai jika hendak mandi.”

Kepala Balai Arkeologi Palembang, Nurhadi Rangkuti, juga menegaskan bahwa mustahil Sriwijaya hancur oleh faktor internal. Film ini bisa menimbulkan pembiasan sejarah, katanya.

Boleh jadi sang sutradara, HB (inisial) bisa berkilah bahwa cerita film ini hanya tentang sebuah kedatuan di Bukit Jerai yang merindukan Sriwijaya, bukan Sriwijaya itu sendiri. Namun masalahnya adalah film ini mencomot nama besar Sriwijaya dan, bila memang niatnya bukan untuk kerajaan Sriwijaya, bisa jadi penipuan product.

“Di dalam sinopsis dan judulnya, sudah jelas film ini mengangkat cerita sejarah Kerajaan Sriwijaya dan karya seni tari dan musik, Gending Sriwijaya,” kata Nurhadi Rangkuti. Dan aku setuju dengan beliau.

CERDIK ATAU NGELES?

Dalam situs berita Poskotanews.com (terakhir kucek edisi sabtu, 5 Januari 2013), mencantumkan promo film Gending Sriwijaya yang ditulis sendiri oleh sutradara HB. Menurutnya film akan digemari masyarakat. Mengapa? Karena di dalamnya berisi semangat tentang kejayaan kerajaan Sriwijaya.

Jika benar ini ditulis sutradara HB sendiri—sebagimana dikatakan oleh situs tersebut—bagiku kalimatnya perlu diperhatikan: “semangat tentang kejayaan kerajaan Sriwijaya”, dan bukannya “tentang kerajaan Sriwijaya.”

Hmm, cukup licin—tetap nggondol nama Sriwijaya tapi aman dari kewajiban menampilkan kebesaran Sriwijaya.

11 MILIAR UANG RAKYAT

Masih menurut Tribunsumsel.com, Gending Sriwijaya adalah film yang dibuat atas kerjasama Putar Production dengan Pemprov Sumsel dengan dana dari APBD senilai 11 Miliar—jika benar informasi situs tersebut. Dalam anggarannya, dana itu untuk membuat film dokumenter, yang selanjutnya dikelola oleh Badan Aset Daerah.

Kadisbudpar Sumsel—yang memiliki pendapat sendiri mengenai “dokumenter”—mengatakan, “Ini merupakan satu sarana promosi kita bagi pengembangan pariwisata Sumsel di tingkat nasional dan Internasional.” Nilai kebesaran Sriwijaya menjadi tujuan film ini, sehingga bisa menarik investor dari luar untuk menanamkan modal di Daerah Provinsi Sumsel.

VERSUS SESAMA KOLOSAL ASIA

Semua yang diatas bisa anda search di internet, di berbagai situs, yang aku sendiri tidak mengetahui validitas para narasumber tersebut.

Terhadap berbagai kritik dari sudut kesejarahan mungkin sutradara HB bisa mengalihkan banyak hal lain yang bisa dinikmati dari film ini selain historynya, semisal sinematografi—sesuatu yang mungkin bukan bidang para sejarawan. Kini aku ingin memberikan pendapatku pribadi dari sisi itu, sebagai masyarakat biasa yang dikecewakan hasilnya. Dengan promo sebagai film kolosal dan menghidupkan kebesaran Sriwijaya, film ini sama sekali melenceng jauh dari sasaran. Jika aku pribadi menilai, film ini tak lebih sekumpulan adegan kekerasan, teatrikal close-up, teriakan-teriakan, taburan “saos” darah, sindiran nyinyir, dan kulit berkeringat. Sepanjang film mataku ditaburi dengan itu.

SEDIKIT. Kiri: Jupe di atas kuda. Kanan: rombongan pasukan membawa harta dalam adegan film Gending Sriwijaya, namun terlalu sedikitnya pemain membuatnya terlihat seperti iring-iringan keluarga petani kecil. Setting dan penampilan orangnya mengingatkan kita pada film-film bertema kerajaan tahun 80-an (foto: repro internet).

SEDIKIT. Kiri: Jupe di atas kuda. Kanan: rombongan pasukan membawa harta dalam adegan film Gending Sriwijaya, namun terlalu sedikitnya pemain membuatnya terlihat seperti iring-iringan keluarga petani kecil. Setting dan penampilan orangnya mengingatkan kita pada film-film bertema kerajaan tahun 80-an (foto: repro internet).

Aku adalah generasi yang sempat menikmati ramainya film-film laga kerajaan kuno era 80-an, ketika nama-nama aktor Barry Prima dan Adven Bangun melambung. Ketika memutar kembali film-film itu, sesekali membuatku tertawa, namun aku juga menginsafi atas keterbatasan dana dan teknologi zaman itu. Anehnya, menurutku, setelah 30an tahun berlalu, tidak ada perkembangan berarti dalam tampilan film Gending Sriwijaya dibanding film-film tersebut. Tetap sama.

KETERBATASAN. Frame-frame masa lalu: film Ken Arok Ken Dedes dan film Walet Merah. Tidak ada perkembangan berarti Gending Sriwijaya dari film-film 30 tahun yang lalu ini: setting yang close-up monoton, pakaian yang tidak kontekstual, dan jumlah pemain yang nanggung (Foto: repro Youtube)

KETERBATASAN. Frame-frame masa lalu: film Ken Arok Ken Dedes dan film Walet Merah. Tidak ada perkembangan berarti Gending Sriwijaya dari film-film 30 tahun yang lalu ini: setting yang close-up monoton, pakaian yang tidak kontekstual, dan jumlah pemain yang nanggung (Foto: repro Youtube)

Kolosal? Sama sekali tidak. Film ini hanyalah bentuk bioskop dari sinetron-sinetron laga kerajaan di televisi yang pernah ngetop beberapa waktu lalu. Kisahnya silat bak bik buk. Jangan terburu mengharap gambaran kebesaran Sriwijaya sebagai negara maritim adikuasa, atau gelaran pasukan sagelar sepapan menghampar. Takkan anda dapatkan di sini. Jika aku boleh katakan, ini adalah film pendekar.

Ada sahabat yang mengatakan kita tidak perlu mengharap film Gending Sriwijaya sekolosal film Hollywood The Lord of the Ring, karena keterbatasan biaya. Bagiku, memang tidak fair menyandingkan film nasional dengan film-film Hollywood berbiaya besar. Namun perlu diingat film-film sesama Asia pun tidak kalah lebih bagusnya. Dan cukup fair bila membandingkan Gending Sriwijaya dengan sebuah film Thailand berjudul The King Maker.

PASUKAN ATAU PADEPOKAN? Atas: pasukan “Sriwijaya-Raya” berlatih perang. Kurang lebih 20 orang saja. Bandingkan dengan film kolosal versi Thailand, The King Maker (bawah), melibatkan ribuan orang. Jika dalam sejarah Sriwijaya begitu digdaya menguasai hampir seluruh Asia Tenggara, adegan mana dari dua film ini yang lebih layak untuk Sriwijaya-Raya? (Foto: repro Internet)

PASUKAN ATAU PADEPOKAN? Atas: pasukan “Sriwijaya-Raya” berlatih perang. Kurang lebih 20 orang saja. Bandingkan dengan film kolosal versi Thailand, The King Maker (bawah), melibatkan ribuan orang. Jika dalam sejarah Sriwijaya begitu digdaya menguasai hampir seluruh Asia Tenggara, adegan mana dari dua film ini yang lebih layak untuk Sriwijaya-Raya? (Foto: repro Internet)

KOLOSAL. Film Thailand The King Maker mengajari kita bagaimana seharusnya tampilan kolosal versi Asia untuk cerita kerajaan zaman Hindu-Budha. Jika Sriwijaya adalah negara adidaya, bukankah seharusnya seperti ini tampilan filmnya? (Foto: repro film The King Maker).

KOLOSAL. Film Thailand The King Maker mengajari kita bagaimana seharusnya tampilan kolosal versi Asia untuk cerita kerajaan zaman Hindu-Budha, lengkap dengan gajah-gajah perangnya (suatu kendaraan tempur yang masih digunakan di era Sultan Agung Hanyakrakusuma (Foto: repro film The King Maker).

Film Thailand, The King Maker mengambil setting kerajaan Ayutthaya, Siam  tahun 1547, yang masih bernuansa Budha. Jika benar data sejarah dan arkeologis bahwa pada abad ke-9 Imperium adikuasa Sriwijaya telah melakukan kolonisasi di hampir seluruh kerajaan-kerajaan Asia Tenggara, antara lain: Sumatera, Jawa, Semenanjung Malaya, Thailand (meski bagian selatan), Kamboja, Vietnam, dan Filipina, maka sedikit banyak sisa peradaban Sriwijaya bisa dilihat ada film The King Maker ini, atau malah lebih besar lagi seharusnya. Terlepas banyak kekurangan dalam film The King Maker (misalnya pada dialog yang memaksa memakai bahasa Inggris sehingga mengganggu penghayatan artisnya, atau jalan ceritanya yang terkadang dibuat-buat), namun kuangkat film ini sebagai perbandingan adalah semata-mata dari sudut settingnya yang kaya dan luas, budayanya, dan terutama tingkat kekolosalan-nya. Jadi tidak perlu jauh-jauh membandingkan diri dengan Hollywood sebagai pembenar.

KOTA MASA LALU. Angle-angle film Thailand The King Maker yang begitu luas, kaya, berdimensi, memanjakan pandangan dan imajinasi, serta berhasil menghidupkan suasana zaman 1547 di Ayutthaya. Sangat berbeda dengan film Gending Sriwijaya yang hanya terlihat 3 setting saja: gua, hutan, dan “vila berdekor batu” yang close-up dan tidak berdimensi. (Foto: repro film The King Maker)

KOTA MASA LALU. Angle-angle film Thailand The King Maker yang begitu luas, kaya, berdimensi, memanjakan pandangan dan imajinasi, serta berhasil menghidupkan suasana zaman 1547 di Ayutthaya. Sangat berbeda dengan film Gending Sriwijaya yang hanya terlihat 3 setting saja: gua, hutan, dan “vila berdekor batu” yang close-up dan tidak berdimensi. (Foto: repro film The King Maker)

BUDAYA. Film Thailand The King Maker pamer budaya. Bahkan singgasananya terlihat lebih “kaya” dari singgasana di film Gending Sriwijaya. Jika film Gending Sriwijaya ingin menggambarkan kebesaran Sriwijaya-Raya yang menurut sejarah adalah adikuasa di Asia Tenggara, bukankah seperti ini seharusnya yang tampil? (Foto: repro film The King Maker)

BUDAYA. Film Thailand The King Maker pamer budaya. Bahkan singgasananya terlihat lebih “kaya” dari singgasana di film Gending Sriwijaya. Jika film Gending Sriwijaya ingin menggambarkan kebesaran Sriwijaya-Raya yang menurut sejarah adalah adikuasa di Asia Tenggara, bukankah seperti ini seharusnya yang tampil? (Foto: repro film The King Maker)

PENULIS SKENARIO

Salah satu tokoh dalam film ini adalah Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Aku tak mendapat pencerahan apa pun dari film ini apakah tokoh Dapunta Hyang Sri Jayanasa ini adalah Raja Sriwijaya yang terukir pada Prasasti Kedukan Bukit, 864 Masehi. Jika ya, malah lebih aneh karena dia adalah raja pertama Sriwijaya, yang membangun imperium Sriwijaya, sementara cerita ini mengisahkan masa saat Sriwijaya mulai runtuh dan terpecah-pecah.

Melihat nama-nama anak raja: Awang Kencana dan Purnama Kelana, sangat terkesan nama komik silat. Dalam sejarah, nama raja Sriwijaya setelah Sri Jayanasa diantaranya  Sri Indrawarman , dan seterusnya berderet nama-nama sankrit seperti Rudra Vikraman,  Sri Maharaja, Dharanindra, Samaragrawira,  Samaratungga atau Sangrama-Vijayottunggawarman —membuat masuk akal bila mereka masih memiliki kaitan budaya dengan Jawa Kuno pendiri Borobudur. Kalaupun nama-nama tersebut diduga adalah nama gelar kemaharajaan, paling tidak nama daerahnya juga tidak se-silat “Awang Kencana” dan “Purnama Kelana”, seperti Rakai Panangkaran, Rakai Warak, Rakai Garung dan lainnya.

Nama-nama gaya silat seperti “Awang Kencana” atau “Purnama Kelana” makin menunjukkan sang penulis skenario tidak terlalu mendalami kesejarahan. Jika seseorang mendalami kesejarahan, dan itu benar-benar merasuk dalam benaknya, bahkan ketika membuat nama secara acak-adut saja pasti tak jauh-jauh dari taste nama kuno sankrit.

Bahasa? Film Passion of the Christ arahan Mel Gibson menggunakan bahasa Aramic yang tak dipakai lagi, namun kemungkinan besar dipakai oleh Yesus dahulu. Kenyataan bahasa  itu telah punah tidak menjadi kendala. Jika mau otentik, sekalian saja yang otentik. Film Gending Sriwijaya menggunakan bahasa Palembang. Apakah itu bahasa malayu kuno sebagaimana yang dipakai orang-orang Sriwijaya dulu?

Agama? Orang-orang Sriwijaya menganut agama Budha, bahkan kemungkinan Dapunta Hyang Sri Jayanasa menganut aliran Tantra. Anehnya, dalam film Gending Sriwijaya, mereka menjamu tamu muslim dengan daging babi. Bukankah Budha dan Islam sama, menolak daging babi. Jika ini film Majapahit masih masuk akal menggunakan babi. Sekali lagi penulis skenarionya terkesan acak-acakan, tidak serius menggali sejarah, padahal uang pembuatan film menggunakan uang rakyat.

PESAN YANG TIDAK KONTEKSTUAL

Banyak pesan yang berusaha diberikan film ini, yang bagiku pribadi lebih terasa sebagai sindiran nyinyir. Rasanya kok tidak kontekstual. Misalnya kata-kata tokoh Malini yang berkata pada adiknya (kira-kira): “otakmu lebih dihargai di sana (luar negeri: China dan India) daripada di sini (tanah air)”. Kata-kata ini lebih terkesan sindiran untuk zaman sekarang, karena zaman Sriwijaya bahkan orang China sendiri menyarankan para sarjananya belajar di Sriwijaya sebelum meneruskan ke India. Menurut I Tsing: Di dalam benteng kota Sriwijaya dipenuhi lebih dari 1000 biksu Budha, yang belajar dengan tekun.

Film ini benar-benar aneh bukan?

SANTUN. Film Mongol yang menggambarkan Jenghis Khan, sebagaimana film Gending Sriwijaya, adalah film proyek dokumenter, hasil kerjasama Federasi Kebudayaan dan Film Rusia bersama Kementerian Kebudayaan Mongolia. Pesan-pesan mendidik dalam film ini disampaikan sangat santun dan konstektual. (foto: repro internet)

SANTUN. Film Mongol yang menggambarkan Jenghis Khan, sebagaimana film Gending Sriwijaya, adalah film proyek dokumenter, hasil kerjasama Federasi Kebudayaan dan Film Rusia bersama Kementerian Kebudayaan Mongolia. Pesan-pesan mendidik dalam film ini disampaikan sangat santun dan konstektual. (foto: repro internet)

Itu belum lagi cara penyampaian. Jangan disangka kata-kata itu diucapkan dengan santun atau lembut, melainkan dengan kasar (makin menjelaskan itu sarkasme untuk zaman ini). Sebagai pembanding, film Mongol yang mengisahkan Jenghis Khan, yang dibuat juga sebagai proyek dokumenter, hasil kerjasama Federasi Kebudayaan dan Film Rusia bersama Kementerian Kebudayaan Mongolia. Siapa yang tidak kenal Jenghis Khan, penakluk yang kekejamannya sudah terkenal, dan bangsa Mongol terkenal cukup bengis (paling tidak secara umum) terhadap taklukannya. Namun film Mongol mampu menyampaikan pesan-pesan indah yang, pertama, kontekstual dengan zaman itu, dan kedua, dengan santun.

KEBESARAN SRIWIJAYA?

Jika saja sang sutradara HB tidak mendompleng kata “Sriwijaya” dalam judul filmnya, dan film ini sepenuhnya film baru bernuansa silat yang lahir dari idealismenya, tentu akan sangat berharga. Namun karena mencomot kata “Sriwijaya”, sementara tak mampu menghidupkan kebesaran Sriwijaya (minimal secara visual sekilas), akhirnya malah jadi product yang mengebiri sejarah.

Settingnya, terkesan sempit dan itu-itu saja. Pakaiannya, menuai kritik sejarawan. Pasukannya, hanya sejumlah kecil pemain. Kolosal? Bagiku tidak.

Mungkin kita bisa berkata, hargailah karya anak negeri yang bersedia dengan susah mengambil tema kejayaan tanah air masa lalu. Menurutku ini ungkapan bagus, namun tidak selamanya kita bisa bersembunyi dalam ungkapan ini sebagai pembenar. Dulu ungkapan ini bisa dijadikan tameng, setelah 30 tahun lebih perjalanan film tema kerajaan Indonesia, masihkah sineas berlindung dalam ungkapan ini?

Bagiku film Gending Sriwijaya terasa menyesakkan. Jika dikatakan film ini bertujuan mengharumkan nama daerah dan menarik investor asing, aku makin bingung. Apa kaitan antara film silat alaa sinetron dengan investor asing? Apakah mereka menonton film ini? Lagipula, tidak terlihat kebesaran daerah Sumatra di film ini.

Baik Sriwijaya maupun Majapahit adalah kemaharajaan yang besar, menjadi kebanggaan nasional. Jika masih belum mampu menghidupkan kebesarannya, sebaiknya janganlah membuatnya dulu. Novel The Lord of the Ring, sekian puluh tahun yang silam pernah hendak difilmkan oleh Hollywood, namun menuai protes dari masyarakat karena teknologi Hollywood saat itu dipastikan belum mampu memvisualkannya. Setelah penggemar bersabar, setelah teknologi memungkinkan, barulah sekarang film ini dibuat.

11 miliar dikucurkan untuk menghidupkan kebesaran Sriwijaya, kembali pada rakyat dalam bentuk product yang tidak berhasil menghidupkannya.

SUDUT POSITIF

Ada juga sih hal-hal menarik. Beberapa artis pendukungnya menuai pujian dalam hal akting. Namun itu tak boleh menjadikan kita terlena. Kalaupun aku mengkritik film ini, itu semata-mata karena aku mengeluarkan uang bukan untuk menikmati perkembangan karir aktor-aktris A, B, C dan D, melainkan semata-mata mencari cerita dan kejayaan Sriwijaya karena aku terlanjur dijebak dengan judul.

Bagiku pribadi, sangat salut dengan aktualisasi diri para aktor-aktris, dan semua kru film. Semoga ini bukanlah proyek idealis sang sutradara, apalagi jika sampai segala kontroversinya adalah disengaja untuk mencari sensasi. Semoga tidak. Jika iya, aduh….menurutku silakan seniman mengaktualisasi diri mereka, dan akan lebih mengundang salut jika dilakukan dengan uang mereka sendiri, dan bukannya uang rakyat.

11 milyar.

coba1

 

coba1

About Asisi

Penulis
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.