Frangipani Letters

Melihat kerlip lampu-lampu kota di pulau dewata dari angkasa saat pesawat lepas landas menelusupkan perasaan duka karena akan berpisah dengan pulau itu. Menatap kembali ke depan dengan harapan menyala bahwa di rentang benang waktu ke depan aku akan menginjakkan kakiku kembali ke pulau milik Bathara Syiwa ini.

Barangkali aku adalah pengelana kehidupan yang aneh dari segelintir orang yang memiliki cara berbeda menikmati gemulai pulau dewata. Barangkali sudah banyak dari sahabat-sahabatku yang pernah ke Bali, melongok pantai-pantainya yang indah, atau berwisata lainnya. Namun mereka tentu tidak merasakan apa yang kurasakan.

Prabu Pandu Dewanata berburu dan melihat seekor rusa yang setelah dipanahnya ternyata jelmaan seorang Rsi yang sedang asyik-masyuk bercinta dengan pasangannya. Histeris sang Rsi berkata, setiap manusia punya cara sendiri-sendiri menikmati segala karunia Yang Maha Kuasa. Begitu pun aku. Jangan katakan telah menikmati Bali secara keseluruhan: yang kasat mata maupun yang tak kasat mata, jika tidak memiliki minat pada sejarah, Hinduisme dan mitologinya.

Kami menikmati pantai-pantai yang indah, gunung-gnung, keramaian Kuta yang bertabur hedonisme, tari-tariannya, sebagaimana orang lain. Namun bagiku wisata yang sesungguhnya adalah di setiap sudut Bali. Bangunan-bangunannya, reliefnya, patung-patungnya, wangi aroma dupa, bunga-bunga persembahan, canangsari untuk para sura di mayapada maupun caru untuk para asura di madyapada, mekarnya bunga-bunga kamboja, lumut dan paku yang merambati lekuk rumit batu yang dipahat, ketekunan dalam beribadah….ini seperti perjalanan menuju masa lalu yang dijala dalam bingkai masa kini.

Jiwaku menggelepar hebat dalam histeria yang tak terkatakan. Jiwakulah yang sedang berwisata. Gandenglah tanganku menuju hamparan pantai-pantainya, namun jiwaku tertancap kuat dalam wanginya dupa di pura-pura dan ornamen masa lalu yang terukir murah di jalanan seantero Bali. Aku merasakan kuat seolah kembali dalam hiruk-pikuk kotaraja-kotaraja masa lalu, singasari, majapahit….

Hanya di Bali kutemukan teknologi dan modernisme bersisian rukun dengan zaman batu. Parabola bersisian dengan patung kala, McDonald bersisian dengan dupa dan bunga persembahan, bikini bersisian dengan pakaian adat.

Bali selalu melahirkan kontradiksi dalam benak setiap orang, dan ajaibnya, kontradiksi itu tidak pernah disadari sebagai benturan. Jika engkau mendengar kata “Bali”, apa terpikir olehmu? Pantai-pantai dan bikini. Ya, benar. Namun jangan lupa, kau pasti juga memikirkan sebentuk masyarakat yang religius, dengan seni zaman batu (pura) serta adat yang kuat mengakar. Jadi, bagaimana bisa kau meletakkan segambar situasi kehidupan bebas yang hedonis dengan segambar masyarakat yang religius dan beradat dalam bingkai yang sama di benakmu? Itu kusebut ajaib.

Segala bentuk kebebasan dan hedonisme ditatap dengan nyalang dan tegar oleh patung-patung renaissance Timur yang mistis dan tertutup. Di Bali, Timur dan Barat bertemu dan bercinta. Di Bali segala bangsa dari ujung-ujung bumi datang membawa persembahan “emas”, “dupa” dan “minyak mur”. Segala kepercayaan berdamai dalam harmoni.

Barat memiliki akar budaya zaman batu yang juga kuat, sampai pernah bangkit kedua kalinya dalam bentuk faham renaissance di seantero Eropa, yakni budaya Graeco. Seni budaya Yunani dikatakan agung dan menakjubkan. Namun jika kau datang ke Yunani hari ini, akankah kau temukan budaya itu hidup sampai hari ini, menjadi nafas keseharian bangsa Yunani? Akankah kau temukan pertarungan gladiator yang seru di pentaskan di amphiteater dan colloseumnya? Akankah kau temukan orang mempersembahkan daging bakaran di kuil Apollo dan Zeus dalam bentuk ibadah yang dilaksanakan dengan sepenuh hati dan kepercayaan? Tidak, yang kau lihat hanya batu, dan semua orang telah mengikut Salib.

Engkau bisa mengajakku ke wisata-wisata di wilayah lain. Beberapa pantai di nusantara tak kalah indahnya. Beberapa negara bahkan sudah sangat majunya. Namun pasti aku takkan menemukan sehelai dua helai epic hinduisme Timur Jauh yang mistis dan memikat dari masa lalu yang paling aku sukai, Singasari dan Majapahit. Jadi, mungkin fisikku akan menikmatinya, namun jiwaku menatap beku.

Bali merangkul semuanya. Mereka yang dangkal yang hanya mampu menikmati wisata kasat mata, mereka yang sok high yang merasa mampu menikmati budaya dan auranya, ataupun mereka yang sinting yang mampu menikmati semuanya secara utuh.

Bali seperti samudra yang menampung semuanya dalam selimut geloranya. Barangkali itulah sebabnya jiwaku menyala dalam pijar tak terkatakan setiap ke sana. Karena kami senyawa. Seperti Bali, jiwaku adalah perlintasan banyak pertamanan. Kristianitas, Islamisme, Budhisme, Hinduisme, Zoroastrianisme…aku biarkan diriku dilintasi banyak hati tanpa sedikitpun aku menghakimi. Semua aku terima. Namun aku juga ditolak oleh semua.

TGA, Rungkut, Surabaya. 30 Juli 2012

About Asisi

Penulis
This entry was posted in MY CAFE and tagged . Bookmark the permalink.