CALON ARANG: ANTARA ALLAH DAN PANGIWO

 

sfsgfgdh2  

     SUNGGUH terhenyak ketika mempelajari Serat Calon Arang karena memberiku banyak pertanyaan mengenai jalan takdir dan seberapa besar wewenang Tuhan dan kehendak bebas manusia dalam sama-sama berkontribusi melahirkan takdir buruk.

Janda (Rangda) dari Girah ini adalah tokoh yang sudah ditetapkan sebagai tokoh jahat, kelompok pangiwo (kiri)/iblis yang melahirkan kesengsaraan bagi dunia. Karena sakit hatinya lantaran putri semata wayangnya tidak juga menerima lamaran, Calon Arang menebar teluh yang mengerikan di seantero kerajaan Kadiri. Melihat ritual yang dilakukannya di kuburan dengan memuja Dewi Bagawati (Kali/Durga) menjelaskan bahwa Calon Arang adalah pengikut Hindu aliran Tantra. Dia menggunakan sebuah kitab untuk menebar kematian. Kitab inilah yang menjadi bahasanku kali ini.

Dalam Serat Calon Arang 6 disebutkan:
“Sěngit juga hrědayamami5 denta. Lamakanya nghulun mangke manggangsala pustaka pinakanghulun. Yan mami huwus gumangsal ikang lipyakara, ng(h)ulun amarěka eng padanira Paduka Sri Bagawati, ng(h)ulun aminta anugraha, ri tumpura nikang wwang sanagara”.(Calon Arang 6)
Terjemahan, “Sakit juga hatiku oleh keadaan itu. Berdasarkan hal itulah aku akan mengambil pustakaku. Apabila aku telah memegang pustaka itu, aku akan datang menghadap Paduka Sri Bagawati. Aku akan minta anugerah, semoga binasalah orang-orang di seluruh kerajaan.” (Calon Arang 6)

Dengan Kitab itu, sang rangda menebar kematian yang sangat mengerikan, seperti tergambar disini:
“Magring bangět ikang sanagara, gringnya sawěngi rwang wěngi tan lyan panas tis lara nika. Paratra ikang wwang, animpal-tinimpal, kang wwang animpal rwang nikê ñjing, měne sore ya katimpal.  Kunapânang sěma tumindih atumpuk.  Tan ana sěla nikang setra watas urung-urung, dening kweh nikang sawa. Lyan eng těgal mwa(h) ring lěbuh, waneh lukrah eng wesma nika. Sonângahung mamangan kunapa. Gagaknya mung asělěngěran, pada pwa ya  manucuk-nucu(k) wangkya. Laler měngěng eng grěhângrěng. Makweh ikang grěha, pomahan suwung.” (Calon Arang 11)

Terjemahan: “Seluruh kerajaan terserang penyakit, sakit semalam dua malam, tidak lain panas dingin sakitnya. Orang-orang itu meninggal, bergantian menguburkan (orang mati). Esok pagi menguburkan temannya, sore hari ia dikuburkan. Mayat bertumpuk-tumpuk tindih-menindih di kuburan. Tidak ada selanya di kuburan dengan batas lubang pembuangan air, karena banyaknya mayat itu. Yang lain di ladang atau pun di jalan, ada pula membusuk di rumahnya. Anjing melolong makan mayat. Burung gagak terbang berkeliaran, ikut bersama-sama mematuk-matuk bangkai. Lalat berdengung bergemuruh di dalam rumah. Banyak rumah dan tempat tinggal yang kosong.” (Calon Arang 11)

gg

Betapa mengerikan gambaran hasil perbuatan sang Rangda. Namun yang mengejutkan, Kitab yang disebut-sebut disini justru bukanlah kitab pangiwo (kiri), dan keseluruhan kisah Calon Arang sama sekali tidak menyiratkan dualisme (kepercayaan bahwa ada dua kekuatan ilah, kebaikan melawan kejahatan). Kitab yang digunakan Calon Arang untuk mengutuk itu adalah Kitab terang, jalan kebenaran, dan kesejatian atau tepatnya Kitab Sejati Tuhan. Tergambar saat Mpu Bahula berhasil mencuri kitab tersebut dan menunjukkannya pada Mpu Baradah:

“Saksana ginangsal pwa nikang patra dya Sang Mahamuni. Ulya nikang sastra antyantêng ayunya, panglaku dahat maring kayogyan, umarêng kasidyan, tělas pwa yêng agama, pangisin ikang pustaka, těka pwêka maring dudu linakwakěn ya, de Sang Calwan Arang, dadyangiwa marêng gělěh, 1kalěngkan ing buwana ginělo.” (Calon Arang 18-19)

Terjemahan: Lalu pustaka itu dipegang oleh Sang Pendeta. Sastra itu berisi hal sangat utama untuk jalan kebaikan, menuju kesempurnaan, puncak rahasia pengetahuan isi pustaka itu. Mengapakah (pustaka) diarahkan menuju jalan yang salah oleh Sang Calon Arang, menuju ke kiri, yaitu menjalankan ilmu sihir, kesengsaraan dunia dipegang. (Calon Arang 18-19)1

Bagi agama-agama monoteis yang mengesakan Tuhan, tidak menolerir adanya kekuatan pengimbang dari Allah, tidak seperti halnya agama dualisme semisal Zoroastrian. Tuhan Allah tetaplah yang tunggal. Zoroastrian (Majusi) yang banyak tumbuh di Dataran tinggi Iran menjelaskan adanya kesengsaraan dan bencana sebagai akibat perbuatan Angra Mainyu (Tuhan Kegelapan) saingan dari Ahura Mazda (Tuhan Terang). Sulit bagi orang-orang ini meletakkan kejahatan dan bencana pada pikiran Tuhan yang Bijaksana. Akibat pembuangan Babilonia yang dialami bangsa Israel terjadilah asimilasi, dan meskipun pada tingkat tertentu akhirnya Zoroastrianisme terserap juga dalam Yudaisme, namun pandangan monoteis bangsa Israel yang tidak menolerir dualisme menjatuhkan konsep Angra Mainyu sebagai Iblis.

“…supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain,” (Yesaya 45:6)

Akhirnya, Kitab Ayub memelorotkan setan (pangiwo/kiri) sebagai abdi Allah, kepanjangan tangan Allah, yang hadir sama rendahnya dengan malaikat di hadapan  tahta Allah dan memohon izin hanya pada Allah. Dengan adanya sebuah intrumen penghukum, maka mudahlah meletakkan takdir Allah sang Bijak sebagai biang dari kesengsaraan dan bencana:
2
“…yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini.” (Yesaya 45:7).

Jadi baik bencana maupun berkat semuanya berasal dari Allah, dan Dialah sang Bijak yang mengerti hakekat dari takdirNya.  Manusia mungkin menilai sesuatu sebagai bencana, namun Allah memiliki pandanganNya sendiri. Standar nilai manusia tidak terukur pada standar nilai Allah. Pada Alquran surat Al-An’aam 59 ditegaskan dengan jelas: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib.”

Karena ketidak tahuan manusia sehingga cenderung pada perbuatan pangiwo. Ketidak tahuan ini yang melahirkan perbuatan nista dan bencana. Manusia selalu diberi pilihan. Dua Jalan: Jalan Firman dan jalan roti, kata Yesus. Pangiwo dan panengen. Menuju pada Yang Sejati atau membenamkan diri pada yang tidak sejati.3

Efek dari pilihan-pilihan itu? An-Nisaa’ 79 menegaskan: “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.”

Hanya ada satu jalan, Kebenaran yang sejati, yakni Allah. Kehendak bebas manusialah yang akhirnya membuat Kebenaran sejati itu menjadi tidak sejati dan bencana. Meski banyak kuasa gelap, iblis dan setan yang menyebar bencana dan kesengsaraan, namun iblis tetaplah abdi Allah yang harus meminta restu pada Allah untuk menyesatkan manusia (Kitab Ayub). Jadi pada dasarnya pangiwo/kiri/bencana adalah juga jalan dan cara Allah.

Akhirnya, jalan sejati hanya satu, dari dan menuju Allah. Namun sebagian besar manusia adalah bodoh dan tidak mengetahuinya sehingga mengubah yang sejati menjadi tidak sejati. Hanya mereka yang mengerti yang akan memperoleh kesejatian Tuhan. Seperti kitab yang dipegang Calon Arang, di tangan yang berbeda (Mpu Baradah) justru menjadi kitab yang mencerahkan.

Kitab suci, betapa pun benarnya kitab itu, tidak akan berguna hanya dengan dibaca dan ditenteng-tenteng. Dia baru akan menujukkan jati kebenarannya bila dimengerti. Kitab yang digunakan Rangda Calon Arang untuk menyebar bencana adalah kitab yang sama yang digunakan mengalahkan dia dan mencerahkan kematiannya. Bertahun-tahun sang rangda menenteng dan membaca kitab kebenaran itu namun toh dia baru memperoleh damai sejahtera (Shalom) setelah kitab tersebut di tangan 4Mpu Baradah. Berabad-abad umat Israel menenteng kitab suci Taurat dan Kitab Nabi-Nabi, silih berganti nabi datang mengingatkan, namun toh mereka jatuh juga pada penyembahan berhala, dan membutuhkan kehadiran Yesus untuk mencelikkan mata mereka arti sesungguhnya dari Kitab Taurat. Kitab yang dibaca kelompok-kelompok garis keras Islam dan teroris adalah kitab yang sama yang dibaca oleh mereka yang moderat dan pecinta damai, hanya pengertiannya yang berbeda jauh.
Sebagai penutup, Weda Suci mengurai dengan jelas:
“Rco aksare parane vyoman yasmin devā adhi viśve ni seduh yastanna veda kim reā karisyati ya ittadviduste ami samāsate” (Atharvaveda 9.10.18)

About Asisi

Penulis
This entry was posted in MY CAFE. Bookmark the permalink.