DARI RUANG KATEKISASI HINGGA CANDI JAWI

1

Di suatu masa, ketika gereja Barat meneror seantero Eropa dengan inkuisisi……

DENGAN kesan kasual yang melekat padanya, sang pendeta menjelaskan pada kami sejarah kekristenan dalam kelas katekisasi.  Tak seperti biasanya, malam itu ada suatu kesan yang menancap dalam, tertinggal di benakku. Memberi kekuatan lebih untuk masuk dalam sebuah gua pemikiran yang penuh jarum es tajam. Sebuah pencerahan-nakal, jika boleh dikatakan. Mungkin karena aku baru beberapa hari sebelumnya mengunjungi sebuah candi peninggalan Majapahit, candi Jawi di Pandakan, Jawa Timur.

Apa hubungannya?

Bila menginput kata “candi Jawi” pada mesin pencari Google, kita akan segera mendapat informasi candi tersebut sehingga tak perlu kubicarakan di sini. Ketika datang,  melihat dan meraba langsung, aku merasakan sesuatu yang menakjubkan, sesuatu yang mustahil, sesuatu yang “tidak mungkin” dikerjakan Tuhan di zaman ini. sesuatu itu adalah bhinneka tunggal ika.

Kata “bhinneka tunggal ika” bukanlah sesuatu yang istimewa, itu hafalan saat kita di sekolah dasar, namun jika kita gali konteks kata dari kitab Sutasoma ini sungguh.., jika boleh kukatakan: adalah mengerikan. Tunggal ika adalah persatuan, artinya anda tidak bisa mencapai moksa berdasar kepercayaan anda tanpa mengakui kebenaran agama lain. Itu sama artinya anda mengimani bahwa sebagai seorang Kristen anda tidak bisa sampai kepada Allah jika tidak mengakui kebenaran agama Islam misalnya.  Aku sendiri merinding mendapati fakta ini. Sinkretisme Siwa-Budha oleh leluhur kita di zaman Majapahit bukanlah “toleransi saling menghormati” seperti yang kita miliki sekarang ini, juga bukan peleburan/kawin-silang  antar agama sebagaimana aliran nyeleneh yang saat ini bermunculan. Sebagai orang Majapahit, anda, katakanlah beragama Hindu, anda utuh dengan keyakinan anda, namun anda juga mengimani bahwa agama Budha adalah agama yang benar meskipun anda tidak ikut mempraktekkan ajaran Budha, barulah anda memperoleh moksa. Perbedaan itu semata-mata, bahwa pengakuan anda terhadap kebenaran agama lain menjadi bagian integral dalam keimanan dan “syahadat rasuli” anda: ‘aku percaya…agama lain sama benarnya dengan agamaku

Sang Jina yang disebut-sebut dalam kitab Sutasoma adalah Syiwa yang mencapai tataran Budha.

ggggSesuatu yang terjadi saat kekuasaan berada di belahan tengah Jawa, bahwa antara Budha dan Hindu tidak pernah ada kata sepakat (Borobudur adalah hegemoni Budha sementara Prambanan adalah hegemoni Hindu), tidak pernah terjadi ketika kekuasaan berpindah ke belahan timur pulau Jawa (sejak era Airlangga). Puncak sinkretisme Siwa-Budha terjadi ketika raja pemabuk (bagian dari Tantra) Kertanegara dari Singhasari bertahta. Di masa inilah candi Jawi dibangun. Sebuah “monumen” batu yang bagian dasarnya bersifat Siwa namun bagian puncaknya bersifat Budha.

“Di situ hanya jenazah beliau saja yang dimakamkan. Karena beliau dulu memeluk dua agama Siwa-Buda.” (Negarakertagama 56:1)

“Bentuk candi berkaki Siwa, berpuncak Buda, sangat tinggi. Di dalamnya terdapat arca Siwa, indah tak dapat dinilai. Dan arca Maha Aksobya bermahkota tinggi tidak bertara.” (Negarakertagama 56:2)

Candi Jawi tidak sendirian merekam hal yang “tidak bisa dilakukan Tuhan sekarang”, beberapa candi lain, katakanlah candi Jago, adalah candi bersifat Budha yang menghiasi dindingnya dengan relief kisah Arjunawiwaha, Parthayajna dan Kalayanawantaka yang bersifat Siwa. Sebaliknya, candi Penataran adalah candi Siwa yang memahat kisah Bubuksah Gagangaking yang bersifat Budha.

Sistem yang diterapkan negara dalam beragama adalah pembauran yang bersifat persamaan kenyataan-tertinggi kedua agama dengan segala emanasinya, ditambah beberapa konsep, namun bukan pada pembauran sistem. Masing-masing agama tetap menjalankan segala tata agama masing-masing. Di abad yang sama, ketika gereja Barat meneror seantero Eropa dengan inkuisisi (mesin penghancur terhadap semua yang tidak sesuai pandangan gereja), di sini, di Candi Jawi terjadi entun yang dwaya saiwa budha sang amuja nguni satata (itu sebabnya kedua pemeluk Siwa dan Budha melakukan puja secara teratur). Seluruh raja-raja Majapahit yang meninggal didharmakan (ditanam) dalam dua candi Siwa dan Budha. Raja pertama Majapahit didharmakan di Candi Sumberjati (Simping) dalam bentuk Siwawimbha (Siwa) sekaligus didharmakan di Antahpura sebagai Budha.

Itulah mengapa aku merasa apa yang pernah terjadi di masa lalu di negara kita dan mungkin satu-satunya di dunia, adalah hal yang “tak mampu” dikerjakan Tuhan di zaman sekarang, meski tingkat pendidikan dan pengetahuan demikian tinggi. Barangkali kaum apologetik dari Islam dan Kristen perlu datang dan menyentuh batu-batu candi Jawi, untuk mengetahui bahwa di sana perdebatan agama seperti memukul angin.

Lalu?

Kita jelas tidak mampu melakukan prestasi yang sama yang diukir leluhur kita, namun setidaknya, sepercik spiritnya bisa kita ambil, yakni kemauan menghargai perbedaan. Spirit itu jelas hal terkecil (baru melangkah) dari pikiran nenek moyang kita, namun merupakan hal besar bagi kita sekarang yang masih rawan jatuh pada perpecahan sektarian.

***

PESAN yang tertangkap malam itu, ketika seluruh pecahan-pecahan kekristenan diilustrasikan ke dalam kue yang dipotong-potong, adalah mengajak kita untuk melihat bahwa setiap potongan kue memiliki tujuan yang sama: kepada Kristus. Hanya sedikit racikan bumbu yang menyebabkan perbedaan. Dan lagi, siapalah yang bisa memastikan potongan kue mana yang lebih enak dari yang lain. Aku tercenung dan teringat ungkapan: ‘agama adalah bukan apa yang Dia katakan, melainkan apa yang anda dengar’.

Keseluruhan kue itu dalam bentuk utuhnya,  secara nakal aku sebut Pikiran Tuhan.

2

Selesai sampai di sini? Ya tentu saja materi yang diberikannya selesai sampai di sini. Namun langkahku belum usai.

Menengok kembali dengan apa yang terjadi berabad lalu di candi Jawi, bagiku, tumbuh sesuatu yang tadi kusebut pencerahan-nakal. Nakal karena aku pasti dipukul bapak-bapak rohaniwan. Karena menurutku, dibanding pikiran penduduk Majapahit, kue Pikiran-Tuhan yang kami dapat malam itu masih terlalu kecil, karena kue itu sebenarnya hanyalah sebuah potongan saja dari pizza yang lebih besar. Bahwa setiap potongan kue milik masing-masing umat meski pun berada di sisi piring yang berbeda namun saling melengkapi dalam sebuah sajian kompleks tempat kita melihat dengan kagum pada Pikiran Raksasa Tuhan yang Maha Tak Terjangkau dan Maha Tak Terselami.

3

Mengatakan agama lain adalah juga kue Pikiran-Tuhan adalah perbuatan nakal. Karena itu maafkanlah aku karena membawa kue yang tak disukai orang-orang.

About Asisi

Penulis
This entry was posted in MY CAFE. Bookmark the permalink.